Sabtu, 24 November 2012

[CERPEN] PENGORBANAN


            Selasa, 13 November 1999. 17:33
“Ibu, belikan aku mainan itu.” Aku menunjuk-nunjuk boneka barbie berbalut baju warna pink itu. Mataku berbinar-binar saat menatap boneka barbie tersebut.
Akhir-akhir ini, teman-temanku selalu memamerkan koleksi boneka barbie terbarunya. Sedangkan aku, hanya bisa memandangi boneka-boneka yang mereka miliki. Dan sekarang, ketika aku melewati toko mainan ini, saatnya aku meminta boneka barbie kepada ibu. Sudah lama aku menginginkan boneka barbie. Aku ingin bermain boneka barbie dan mendandani boneka barbie tersebut dengan alat make-up milik ibuku. Dengan membayangkannya saja, aku sudah tersenyum-tersenyum sendiri. Ah, aku jadi tidak sabar buat mengambil boneka barbie tadi, setelah ibu membayarnya.
”Kapan-kapan saja, ya.” Aku bisa melihat senyuman dari bibir ibuku, setelah beliau mengatakan kalimat tadi. Dan, apa katanya tadi? Kapan-kapan saja?! Ya ampun, apa ibuku tidak bisa mengerti perasaanku? Aku ingin sekali boneka barbie itu. Aku sudah mengidam-idamkan dari dulu! Sekali lagi, aku menujuk boneka barbie tadi, ”Ibu, aku pengen itu. Tolong belikan.” Raut wajahku sudah tidak berbinar seperti tadi, tapi, aku tidak pantang menyerah. Aku menginginkan boneka barbie itu sekarang, bukan kapan-kapan saja.
            Tapi, ibuku tetap mengucapkan kalimat seperti yang diucapkan tadi. ”Kapan-kapan saja, Nak. Uang ibu buat beli makan keluarga kita.”
Dan seketika itu, aku menangis meraung-meraung di tengah jalan, tepatnya di depan toko boneka barbie tadi. Aku tidak peduli apa kata orang. Aku tidak malu. Karena yang aku inginkan sekarang, hanyalah boneka barbie....
                                                        ***
6 tahun kemudian...
”Prita, kamu tidak menginginkan sepeda motor, ya?” Temanku Devi bertanya dengan heran. Raut muka heran terpampang jelas di wajahnya.
Apa katanya tadi? Apa aku tidak menginginkan sepeda motor? Dari lubuk hati yang paling dalam, aku sangat ingin mempunyai sepeda motor sendiri. Bagaimana tidak? Aku sekarang sudah SMA kelas 1. Siswa seumuranku sekarang, banyak sekali yang berangkat sekolah sudah menggunakan sepeda motor pribadinya sendiri. Apalagi para cowok, malah sudah lincah sekali menaiki sepeda motor sendiri, tanpa perlu dibimbing lagi oleh orang tuanya.
Bukannya aku tidak bisa menaiki sepeda motor sendiri. Aku sudah bisa, kok. Aku sudah bisa menaiki sepeda motor sendiri ketika kelas 7 SMP. Tapi, bukan itu masalahnya. Masalah yang aku hadapi sekarang, aku ingin mempunyai sepeda motor sendiri. Tanpa perlu naik ojek setiap berangkat sekolah.
Malamnya, setelah Ani bertanya kepadaku tadi, aku langsung mendatangi ibuku yang sedang berada di ruang tamu menonton televisi.
”Bu, gimana tadi kerjanya? Capek?” tanyaku setelah aku mendudukkan diri di kursi sebelah ibu.
”Hai sayang, kerjanya lancar, kok. Lumayan capek, sih. Gimana kamu sendiri? Apa kamu merasa kesulitan terhadap perubahan lingkungan sekolahmu? Jadi anak SMA pasti bangga, ya?” Ibuku bertanya itu dengan senyum khasnya.
”Alhamdulillah tidak, kok, Bu. Prita langsung bisa menyesuaikan diri terhadap lingkungan sekolah baru Prita. Hihi, ya begini ini, Bu. Jadi anak SMA jadi harus lebih dewasa daripada sebelumnya.” Tidak lupa, aku menyunggingkan senyum itu kepada ibuku. Setiap berbicara dengan ibuku, aku selalu memasang senyum tulusku. Karena aku mencintai beliau.
”Alhamdulillah. Kamu tidak makan, Nak? Biar Ibu suapin. Sudah lama ibu tidak nyuapin kamu.” Aku langsung mengumbar tawa geliku.
”Ibu ini ada-ada saja, masa Prita anak SMA mau disuapin, sih, Bu? Haha.”
Ibuku ikut-ikutan tertawa. Tawa khas ibuku.
Setelah kami menghentikan tawa tadi, aku langsung mengalihkan pembicaraan. ”Bu, sebenarnya, Prita mau bilang sesuatu sama Ibu.” Aku bisa merasakan gemetar dari bibirku. Aku selalu takut ketika berbicara dengan ibu apabila sedang meminta sesuatu. Dari kecil.
”Apa sayang?” Sekarang, ibuku tidak lagi menatap layar televisi, melainkan menatapku. Beliau sedikit memiringkan tubuhnya, agar bisa sepenuhnya menatap aku.
”Prita minta sepeda motor, ya, Bu?” Lagi-lagi aku menggigit bibir.
Mataku terus menatap mata ibu penuh ketakutan. Inilah sifat anehku. Seperti yang sudah aku jelaskan sebelumnya. Aku bisa merasakan helaan nafas ibuku mengenai tangan mungilku. Helaan nafas yang sangat keras. Aku tidak tahu apa yang sedang dirasakan ibu sekarang.
”Prita...,” kata ibuku lemah. ”Ibu tidak punya uang, Nak.” lanjutnya.
            Jegler! Kalimat itu meninju hatiku. Kalimat yang pernah diucapkan sebelumnya. 6 tahun lalu. Ketika aku meminta berbagai mainan boneka barbie kepada ibu.
Dan sekarang, kalimat itu terucap lagi. Ketika aku meminta sepeda motor.
”Kan kamu sudah punya sepeda, Nak...,” kata ibuku lagi.
Oke, aku memang mempunyai sepeda. Sepeda bututku yang ibu belikan untuk hadiah ulang tahunku ketika aku berumur 10 tahun. Tapi sekarang, aku sudah SMA. Naik sepeda? Bukannya aku gengsi, tapi sekolahku sangat jauh dari rumah. Jarak rumahku dengan sekolahku sekita 15KM. Apa dengan naik sepeda aku bisa mencapai sekolah tepat jam setengah 7? Aku pikir, itu sangatlah konyol.
”Kamu juga bisa naik ojek, Nak. Kan Mang Udin sudah jadi tukang ojek pribadimu.” Lanjut ibuku.
Naik ojek dengan Mang Udin? Itu sudah kebiasaanku dari dulu. Dia memang sudah jadi tukang ojek pribadiku. Tapi, apa salahnya aku ingin mempunyai sepeda motor pribadi? Tidak hanya dengan tukang ojek pribadi....
”Maaf, ya, Nak. Uang ibu buat makan keluarga kita.”
”Oke, tidak apa-apa, Bu. Prita mau tidur dulu. Prita capek tadi di sekolah ada tugas menumpuk.”
Aku langsung meninggalkan ibu dari sofa keluarga, dan menuju kamarku. Aku membuka pitu kamarku, dan menutupnya dengan keras—dengan kata lain; membantingnya—. Sampai kamar, kubantingkan tubuhku di kasur, dan menutupi wajahku dengan bantal.
Aku menangis sejadi-jadinya.
                                                ***
2 tahun kemudian...
AKU LULUS! Horeee!
Aku melompat-lompat kegirangan di kamarku sendiri, sambil menatap layar komputerku.
Pengumuman kelulusan SMA tahun ini, memang diumumkan via online. Dan sekarang, aku sedang membuka website dinas Surabaya. Namaku terpampang di barisan paling atas! Ya! Aku termasuk 10 besar se Surabaya! Tepatnya, aku urutan 5 teratas se Surabaya! Dengan nilai yang memuaskan! Ya tuhan, ini benar-benar keajaiban.
Aku buru-buru memberitahu kabar ini kepada ibuku.
Ibuku berada di dapur, aku langsung merangkulnya dari belakang.
”Wohoo, ada apa sayang?” Ibu mematikan kompor, dan langsung menyerbeti tanganya yang tampak kotor.
”Aku lulus, Bu! Lulus!” Aku berteriak girang sambil melpompat-lompat tidak jelas.
Tapi, reaksi ibu tidak seperti yang aku inginkan, ibu justru pergi meninggalkan aku dan menuju kamarnya.
Kalian tahu apa yang sedang aku rasakan? Sedih. Ya. Sangat sedih. Kecewa. Ibuku tidak gembira melihat aku gembira.
Tapi, tiba-tiba ibuku kembali lagi sambil membawa amplop. Amplop itu diserahkan ke aku. Aku membukanya. Dan langsung kulihat tumpukan uang yang bernominal seratus rubu rupiah. Sangat banyak. Dan aku juga menemukan buku bank. Aku membukanya dan meneukan tulisan transaksi tabungan. Di barisan paling bawah, transaksi uang di buku itu sebesar 20juta rupiah.
Mulutku menganga lebar melihat semua ini. Kutatap ibuku sambil menaikkan sebelah alis. Tapi ibuku hanya tersenyum penuh lembut.
”Itu uang tabungan Ibu, Nak.”
”Ibu..., dapat uang dari mana?” Aku masih sulit memercayai semua ini.
”Dari uang hasil kerja Ibu. Ibu sudah mengumpulkan uang ini sejak kamu kecil. Dari dulu, kamu selalu minta ini itu, tapi tidak pernah ibu belikan. Uang buat beli semua itu, Ibu tabungkan, Nak. Buat biaya kuliahmu.” Ibu tersenyum dengan lebar.
Biaya kuliahku?
Tanpa ba-bi-bu lagi, aku langsung memeluk ibu dengan tangisku yang menetes ke daster ibu. Kami berpelukan sangat erat. Ibuku juga menangis. Kami semua bahagia.
”Maafkan ibu selama ini, ya, Nak.”
Ibuku tidak salah. Ibuku sudah membahagiakan aku, dan mulai saat ini, aku juga akan membahagiakan ibuku. Harus.
                                                            ***
5 tahun kemudian...
Aku memakirkan mobil yaris merahku ke dalam pekarangan rumah masa kecilku. Setelah aku turun dari mobil itu, aku mengetuk pintu. Ketukan ke 3, tampak seorang ibu yang wajahnya sudah mulai keriput. Itu ibuku.
”Assalamu’alaikum, Bu.” Aku menyalami ibuku dengan hormat.
Ibuku kaget dengan kedatanganku tiba-tiba. Beliau langsung memelukku.
”Apa kabar, Nak?” tanya ibuku setelah melepaskan pelukan dari aku.
”Baik, Bu. Oh iya, boleh Prita masuk?” Ibuku langsung tersenyum dan menggandeng aku masuk.
Setelah berhasil duduk berdua dengan ibu, aku mengeluarkan buku dari dalam tas. Dan kukasihkan ke ibu. Tatapan ibu setelah membuka buka itu, adalah tatapan tidak percaya. Mulutnya menganga lebar.
Ya, buku itu berisi bukti pemberangkatan haji ibuku pada tahun 2019 mendatang. Aku telah mendaftarkan ibu haji. Uang itu berasal dari hasil penjualan ke 5 novelku. Semua novelku sudah menjadi best seller. Ya, sudah 4 tahun ini aku menjadi penulis. 2008 lalu, aku berhasil menerbitkan novel debutku. Novel itu diterbitkan ketika aku menjalani kuliah semester ke 3.
Cita-citaku dari dulu memang menjadi penulis. Dan sekarang, impianku tercapai. Semua berkat ibuku.
Aku juga harus memenuhi cita-cita ibuku dari dulu. Berangkat naik haji. Dan sekarang aku berhasil.
Ibuku langsung memelukku tak percaya. Beliau menangis dengan sangat kencang. Aku hanya bisa menyungginggkan senyumku.
Sekarang, ibuku berhasil membahagiakan aku, dan aku juga berhasil membahagiakan ibuku.
Ya, sekarang aku jadi mendapat pelajaran penting.
Betapa indahnya jika kita tidak membantah orang tua.
Betapa indahnya jika kita menyiapkan semuanya jauh dari sebelum hari itu.
Betapa indahnya jika kita melakukan semuanya dengan pengorbanan.
Karena pengorbanan dengan tulus, akan mendapatkan buah yang sangat manis.
Kalian tidak akan menyesal.

            Selasa, 13 November 1999. 17:33
“Ibu, belikan aku mainan itu.” Aku menunjuk-nunjuk boneka barbie berbalut baju warna pink itu. Mataku berbinar-binar saat menatap boneka barbie tersebut.
Akhir-akhir ini, teman-temanku selalu memamerkan koleksi boneka barbie terbarunya. Sedangkan aku, hanya bisa memandangi boneka-boneka yang mereka miliki. Dan sekarang, ketika aku melewati toko mainan ini, saatnya aku meminta boneka barbie kepada ibu. Sudah lama aku menginginkan boneka barbie. Aku ingin bermain boneka barbie dan mendandani boneka barbie tersebut dengan alat make-up milik ibuku. Dengan membayangkannya saja, aku sudah tersenyum-tersenyum sendiri. Ah, aku jadi tidak sabar buat mengambil boneka barbie tadi, setelah ibu membayarnya.
”Kapan-kapan saja, ya.” Aku bisa melihat senyuman dari bibir ibuku, setelah beliau mengatakan kalimat tadi. Dan, apa katanya tadi? Kapan-kapan saja?! Ya ampun, apa ibuku tidak bisa mengerti perasaanku? Aku ingin sekali boneka barbie itu. Aku sudah mengidam-idamkan dari dulu! Sekali lagi, aku menujuk boneka barbie tadi, ”Ibu, aku pengen itu. Tolong belikan.” Raut wajahku sudah tidak berbinar seperti tadi, tapi, aku tidak pantang menyerah. Aku menginginkan boneka barbie itu sekarang, bukan kapan-kapan saja.
            Tapi, ibuku tetap mengucapkan kalimat seperti yang diucapkan tadi. ”Kapan-kapan saja, Nak. Uang ibu buat beli makan keluarga kita.”
Dan seketika itu, aku menangis meraung-meraung di tengah jalan, tepatnya di depan toko boneka barbie tadi. Aku tidak peduli apa kata orang. Aku tidak malu. Karena yang aku inginkan sekarang, hanyalah boneka barbie....
                                                        ***
6 tahun kemudian...
”Prita, kamu tidak menginginkan sepeda motor, ya?” Temanku Devi bertanya dengan heran. Raut muka heran terpampang jelas di wajahnya.
Apa katanya tadi? Apa aku tidak menginginkan sepeda motor? Dari lubuk hati yang paling dalam, aku sangat ingin mempunyai sepeda motor sendiri. Bagaimana tidak? Aku sekarang sudah SMA kelas 1. Siswa seumuranku sekarang, banyak sekali yang berangkat sekolah sudah menggunakan sepeda motor pribadinya sendiri. Apalagi para cowok, malah sudah lincah sekali menaiki sepeda motor sendiri, tanpa perlu dibimbing lagi oleh orang tuanya.
Bukannya aku tidak bisa menaiki sepeda motor sendiri. Aku sudah bisa, kok. Aku sudah bisa menaiki sepeda motor sendiri ketika kelas 7 SMP. Tapi, bukan itu masalahnya. Masalah yang aku hadapi sekarang, aku ingin mempunyai sepeda motor sendiri. Tanpa perlu naik ojek setiap berangkat sekolah.
Malamnya, setelah Ani bertanya kepadaku tadi, aku langsung mendatangi ibuku yang sedang berada di ruang tamu menonton televisi.
”Bu, gimana tadi kerjanya? Capek?” tanyaku setelah aku mendudukkan diri di kursi sebelah ibu.
”Hai sayang, kerjanya lancar, kok. Lumayan capek, sih. Gimana kamu sendiri? Apa kamu merasa kesulitan terhadap perubahan lingkungan sekolahmu? Jadi anak SMA pasti bangga, ya?” Ibuku bertanya itu dengan senyum khasnya.
”Alhamdulillah tidak, kok, Bu. Prita langsung bisa menyesuaikan diri terhadap lingkungan sekolah baru Prita. Hihi, ya begini ini, Bu. Jadi anak SMA jadi harus lebih dewasa daripada sebelumnya.” Tidak lupa, aku menyunggingkan senyum itu kepada ibuku. Setiap berbicara dengan ibuku, aku selalu memasang senyum tulusku. Karena aku mencintai beliau.
”Alhamdulillah. Kamu tidak makan, Nak? Biar Ibu suapin. Sudah lama ibu tidak nyuapin kamu.” Aku langsung mengumbar tawa geliku.
”Ibu ini ada-ada saja, masa Prita anak SMA mau disuapin, sih, Bu? Haha.”
Ibuku ikut-ikutan tertawa. Tawa khas ibuku.
Setelah kami menghentikan tawa tadi, aku langsung mengalihkan pembicaraan. ”Bu, sebenarnya, Prita mau bilang sesuatu sama Ibu.” Aku bisa merasakan gemetar dari bibirku. Aku selalu takut ketika berbicara dengan ibu apabila sedang meminta sesuatu. Dari kecil.
”Apa sayang?” Sekarang, ibuku tidak lagi menatap layar televisi, melainkan menatapku. Beliau sedikit memiringkan tubuhnya, agar bisa sepenuhnya menatap aku.
”Prita minta sepeda motor, ya, Bu?” Lagi-lagi aku menggigit bibir.
Mataku terus menatap mata ibu penuh ketakutan. Inilah sifat anehku. Seperti yang sudah aku jelaskan sebelumnya. Aku bisa merasakan helaan nafas ibuku mengenai tangan mungilku. Helaan nafas yang sangat keras. Aku tidak tahu apa yang sedang dirasakan ibu sekarang.
”Prita...,” kata ibuku lemah. ”Ibu tidak punya uang, Nak.” lanjutnya.
            Jegler! Kalimat itu meninju hatiku. Kalimat yang pernah diucapkan sebelumnya. 6 tahun lalu. Ketika aku meminta berbagai mainan boneka barbie kepada ibu.
Dan sekarang, kalimat itu terucap lagi. Ketika aku meminta sepeda motor.
”Kan kamu sudah punya sepeda, Nak...,” kata ibuku lagi.
Oke, aku memang mempunyai sepeda. Sepeda bututku yang ibu belikan untuk hadiah ulang tahunku ketika aku berumur 10 tahun. Tapi sekarang, aku sudah SMA. Naik sepeda? Bukannya aku gengsi, tapi sekolahku sangat jauh dari rumah. Jarak rumahku dengan sekolahku sekita 15KM. Apa dengan naik sepeda aku bisa mencapai sekolah tepat jam setengah 7? Aku pikir, itu sangatlah konyol.
”Kamu juga bisa naik ojek, Nak. Kan Mang Udin sudah jadi tukang ojek pribadimu.” Lanjut ibuku.
Naik ojek dengan Mang Udin? Itu sudah kebiasaanku dari dulu. Dia memang sudah jadi tukang ojek pribadiku. Tapi, apa salahnya aku ingin mempunyai sepeda motor pribadi? Tidak hanya dengan tukang ojek pribadi....
”Maaf, ya, Nak. Uang ibu buat makan keluarga kita.”
”Oke, tidak apa-apa, Bu. Prita mau tidur dulu. Prita capek tadi di sekolah ada tugas menumpuk.”
Aku langsung meninggalkan ibu dari sofa keluarga, dan menuju kamarku. Aku membuka pitu kamarku, dan menutupnya dengan keras—dengan kata lain; membantingnya—. Sampai kamar, kubantingkan tubuhku di kasur, dan menutupi wajahku dengan bantal.
Aku menangis sejadi-jadinya.
                                                ***
2 tahun kemudian...
AKU LULUS! Horeee!
Aku melompat-lompat kegirangan di kamarku sendiri, sambil menatap layar komputerku.
Pengumuman kelulusan SMA tahun ini, memang diumumkan via online. Dan sekarang, aku sedang membuka website dinas Surabaya. Namaku terpampang di barisan paling atas! Ya! Aku termasuk 10 besar se Surabaya! Tepatnya, aku urutan 5 teratas se Surabaya! Dengan nilai yang memuaskan! Ya tuhan, ini benar-benar keajaiban.
Aku buru-buru memberitahu kabar ini kepada ibuku.
Ibuku berada di dapur, aku langsung merangkulnya dari belakang.
”Wohoo, ada apa sayang?” Ibu mematikan kompor, dan langsung menyerbeti tanganya yang tampak kotor.
”Aku lulus, Bu! Lulus!” Aku berteriak girang sambil melpompat-lompat tidak jelas.
Tapi, reaksi ibu tidak seperti yang aku inginkan, ibu justru pergi meninggalkan aku dan menuju kamarnya.
Kalian tahu apa yang sedang aku rasakan? Sedih. Ya. Sangat sedih. Kecewa. Ibuku tidak gembira melihat aku gembira.
Tapi, tiba-tiba ibuku kembali lagi sambil membawa amplop. Amplop itu diserahkan ke aku. Aku membukanya. Dan langsung kulihat tumpukan uang yang bernominal seratus rubu rupiah. Sangat banyak. Dan aku juga menemukan buku bank. Aku membukanya dan meneukan tulisan transaksi tabungan. Di barisan paling bawah, transaksi uang di buku itu sebesar 20juta rupiah.
Mulutku menganga lebar melihat semua ini. Kutatap ibuku sambil menaikkan sebelah alis. Tapi ibuku hanya tersenyum penuh lembut.
”Itu uang tabungan Ibu, Nak.”
”Ibu..., dapat uang dari mana?” Aku masih sulit memercayai semua ini.
”Dari uang hasil kerja Ibu. Ibu sudah mengumpulkan uang ini sejak kamu kecil. Dari dulu, kamu selalu minta ini itu, tapi tidak pernah ibu belikan. Uang buat beli semua itu, Ibu tabungkan, Nak. Buat biaya kuliahmu.” Ibu tersenyum dengan lebar.
Biaya kuliahku?
Tanpa ba-bi-bu lagi, aku langsung memeluk ibu dengan tangisku yang menetes ke daster ibu. Kami berpelukan sangat erat. Ibuku juga menangis. Kami semua bahagia.
”Maafkan ibu selama ini, ya, Nak.”
Ibuku tidak salah. Ibuku sudah membahagiakan aku, dan mulai saat ini, aku juga akan membahagiakan ibuku. Harus.
                                                            ***
5 tahun kemudian...
Aku memakirkan mobil yaris merahku ke dalam pekarangan rumah masa kecilku. Setelah aku turun dari mobil itu, aku mengetuk pintu. Ketukan ke 3, tampak seorang ibu yang wajahnya sudah mulai keriput. Itu ibuku.
”Assalamu’alaikum, Bu.” Aku menyalami ibuku dengan hormat.
Ibuku kaget dengan kedatanganku tiba-tiba. Beliau langsung memelukku.
”Apa kabar, Nak?” tanya ibuku setelah melepaskan pelukan dari aku.
”Baik, Bu. Oh iya, boleh Prita masuk?” Ibuku langsung tersenyum dan menggandeng aku masuk.
Setelah berhasil duduk berdua dengan ibu, aku mengeluarkan buku dari dalam tas. Dan kukasihkan ke ibu. Tatapan ibu setelah membuka buka itu, adalah tatapan tidak percaya. Mulutnya menganga lebar.
Ya, buku itu berisi bukti pemberangkatan haji ibuku pada tahun 2019 mendatang. Aku telah mendaftarkan ibu haji. Uang itu berasal dari hasil penjualan ke 5 novelku. Semua novelku sudah menjadi best seller. Ya, sudah 4 tahun ini aku menjadi penulis. 2008 lalu, aku berhasil menerbitkan novel debutku. Novel itu diterbitkan ketika aku menjalani kuliah semester ke 3.
Cita-citaku dari dulu memang menjadi penulis. Dan sekarang, impianku tercapai. Semua berkat ibuku.
Aku juga harus memenuhi cita-cita ibuku dari dulu. Berangkat naik haji. Dan sekarang aku berhasil.
Ibuku langsung memelukku tak percaya. Beliau menangis dengan sangat kencang. Aku hanya bisa menyungginggkan senyumku.
Sekarang, ibuku berhasil membahagiakan aku, dan aku juga berhasil membahagiakan ibuku.
Ya, sekarang aku jadi mendapat pelajaran penting.
Betapa indahnya jika kita tidak membantah orang tua.
Betapa indahnya jika kita menyiapkan semuanya jauh dari sebelum hari itu.
Betapa indahnya jika kita melakukan semuanya dengan pengorbanan.
Karena pengorbanan dengan tulus, akan mendapatkan buah yang sangat manis.
Kalian tidak akan menyesal.

Kamis, 08 November 2012

DREAM OF BEING A WRITER

Tulisan ini dibuat dalam rangka mengikuti Lomba Menulis yang  diadakan Penerbit Haru. Info: penerbitharu.wordpress.com
Kalau kita takut melakukan kesalahan, selamanya kita akan berjalan di tempat.”
Kalimat itu terucap dari mulut seorang pria idamanku. Walaupun yang mengucapkan adalah pria yang aku cintai, itu tetap saja tidak membuatku terhibur. Aku masih saja bimbang. Entah berapa kali aku mondar-mandir di teras bersama dengan si Aldi—kekasihku—, tapi tetap saja otakku tidak menemukan jawaban atas tawaran yang aku terima dari temanku, yang notabene sebagai penulis.
Satu jam yang lalu, temanku Orizuka, meneleponku dan memberi tawaran untuk mengajakku mengikuti lomba menulis yang hadiahnya sangat besar. Tapi kalian jangan salah sangka dulu, aku bukannya menginginkan hadiah besar itu, melainkan ingin menjadi pemenang dalam lomba itu. Cita-citaku dari dulu adalah menjadi seorang penulis. Penulis yang hebat dan bisa menyihir para pembaca melalui novelku.
Dan sekarang, kalian tahu apa penyebabku bimbang—yang sering disebut para remaja sekarang dengan galau—ckck, dasar anak sekarang. Aku bimbang mau mengikuti lomba itu atau tidak, karena setahun yang lalu, aku pernah mengirimkan karya tulisku ke sebuah penerbit dan ditolak! Astaga, itu langsung membuatku down dan berhenti menulis dulu selama setahun ini. Sampai sekarang. Padahal dahulu, menulis ada hobbyku.
Kalau kita takut melakukan kesalahan, selamanya kita akan berjalan di tempat.” Dan yak, kekasihku sudah berulang-ulang mengucapkan kalimat itu. Mungkin sudah seribu kali, tapi aku tetap saja bimbang.
“Benar kata Aldi, nak.” Itu suara ibuku. Secara reflek, aku menghentikan langkahku dan menghadap ke ibu. Ibuku memberi senyuman yang kulihat sebagai senyum penyemangat.
“Kamu tidak boleh jatuh terus-menerus di keterpurukan. Kamu harus bangkit dan mengejar impianmu. Kamu pasti bisa jadi penulis, nak.” Kalimat ibuku barusan langsung menggugah semangatku kembali. Karena dari dulu sampai sekarang, semangat ibu tetap jadi yang pertama. Aku pasti bisa jadi penulis. Dan harus bisa. Akhirnya, aku tersenyum kepada mereka berdua, dan membulatkan tekat untuk mengikuti lomba menulis itu.
6 bulan kemudian....
JUARA PERTAMA LOMBA MENULIS DIPEROLEH KEPADA Sdr. ADELIA AYU MUSTIKARINI. Kalimat capslock tersebut terpampang jelas di layar monitorku. Tadi, aku tidak sengaja membuka website penerbit yang mengadakan lomba novel yang aku ikuti, dan ternyata, aku menang! Juara pertama! Astaga..., aku merasa dentuman hatiku seperti sedang dihinggapi berjuta-juta kupu-kupu, dan menimbukan rasa gelitik yang gembira.
3 bulan yang lalu, aku mengirimkan tulisanku ke penerbit tadi, selama 3 bulan setelah aku mengirimkan naskahku, aku selalu saja gelisah dan takut. Takut bila naskahku tidak diterima. Aku takut kesalahan itu terjadi 2 kali lagi. Tapi selama itu, aku selalu teringat kalimat kekasihku dan ibuku. Kalau kita takut melakukan kesalahan, selamanya kita akan berjalan di tempat. Jadi, aku selalu optimis dan tawakal menanti pengumuman pemenang.
Tenyata, keoptimisanku tidak sia-sia, dan membuahkan hasil yang memuaskan. Naskahku diterima dan mendapat juara pertama! Karyaku akan dibukukan! Ya Tuhan, ini berita sangat menggembirakan! Aku harus cepat-cepat bilang ke Aldi dan ibuku! Mereka harus tau! Dan aku juga harus berterimakasih kepada 2 pahlawanku. 2 penyemangat hidupku. Sekarang dan selamanya, aku akan selalu ingat akan kalimat Aldi serta ibuku. Kalimat motivasi yang berguna. Motivasi emas. “Kalau kita takut melakukan kesalahan, selamanya kita akan berjalan di tempat.”
 *NB: Cerita ini hanyalah cerita fiksi:)
Tulisan ini dibuat dalam rangka mengikuti Lomba Menulis yang  diadakan Penerbit Haru. Info: penerbitharu.wordpress.com
Kalau kita takut melakukan kesalahan, selamanya kita akan berjalan di tempat.”
Kalimat itu terucap dari mulut seorang pria idamanku. Walaupun yang mengucapkan adalah pria yang aku cintai, itu tetap saja tidak membuatku terhibur. Aku masih saja bimbang. Entah berapa kali aku mondar-mandir di teras bersama dengan si Aldi—kekasihku—, tapi tetap saja otakku tidak menemukan jawaban atas tawaran yang aku terima dari temanku, yang notabene sebagai penulis.
Satu jam yang lalu, temanku Orizuka, meneleponku dan memberi tawaran untuk mengajakku mengikuti lomba menulis yang hadiahnya sangat besar. Tapi kalian jangan salah sangka dulu, aku bukannya menginginkan hadiah besar itu, melainkan ingin menjadi pemenang dalam lomba itu. Cita-citaku dari dulu adalah menjadi seorang penulis. Penulis yang hebat dan bisa menyihir para pembaca melalui novelku.
Dan sekarang, kalian tahu apa penyebabku bimbang—yang sering disebut para remaja sekarang dengan galau—ckck, dasar anak sekarang. Aku bimbang mau mengikuti lomba itu atau tidak, karena setahun yang lalu, aku pernah mengirimkan karya tulisku ke sebuah penerbit dan ditolak! Astaga, itu langsung membuatku down dan berhenti menulis dulu selama setahun ini. Sampai sekarang. Padahal dahulu, menulis ada hobbyku.
Kalau kita takut melakukan kesalahan, selamanya kita akan berjalan di tempat.” Dan yak, kekasihku sudah berulang-ulang mengucapkan kalimat itu. Mungkin sudah seribu kali, tapi aku tetap saja bimbang.
“Benar kata Aldi, nak.” Itu suara ibuku. Secara reflek, aku menghentikan langkahku dan menghadap ke ibu. Ibuku memberi senyuman yang kulihat sebagai senyum penyemangat.
“Kamu tidak boleh jatuh terus-menerus di keterpurukan. Kamu harus bangkit dan mengejar impianmu. Kamu pasti bisa jadi penulis, nak.” Kalimat ibuku barusan langsung menggugah semangatku kembali. Karena dari dulu sampai sekarang, semangat ibu tetap jadi yang pertama. Aku pasti bisa jadi penulis. Dan harus bisa. Akhirnya, aku tersenyum kepada mereka berdua, dan membulatkan tekat untuk mengikuti lomba menulis itu.
6 bulan kemudian....
JUARA PERTAMA LOMBA MENULIS DIPEROLEH KEPADA Sdr. ADELIA AYU MUSTIKARINI. Kalimat capslock tersebut terpampang jelas di layar monitorku. Tadi, aku tidak sengaja membuka website penerbit yang mengadakan lomba novel yang aku ikuti, dan ternyata, aku menang! Juara pertama! Astaga..., aku merasa dentuman hatiku seperti sedang dihinggapi berjuta-juta kupu-kupu, dan menimbukan rasa gelitik yang gembira.
3 bulan yang lalu, aku mengirimkan tulisanku ke penerbit tadi, selama 3 bulan setelah aku mengirimkan naskahku, aku selalu saja gelisah dan takut. Takut bila naskahku tidak diterima. Aku takut kesalahan itu terjadi 2 kali lagi. Tapi selama itu, aku selalu teringat kalimat kekasihku dan ibuku. Kalau kita takut melakukan kesalahan, selamanya kita akan berjalan di tempat. Jadi, aku selalu optimis dan tawakal menanti pengumuman pemenang.
Tenyata, keoptimisanku tidak sia-sia, dan membuahkan hasil yang memuaskan. Naskahku diterima dan mendapat juara pertama! Karyaku akan dibukukan! Ya Tuhan, ini berita sangat menggembirakan! Aku harus cepat-cepat bilang ke Aldi dan ibuku! Mereka harus tau! Dan aku juga harus berterimakasih kepada 2 pahlawanku. 2 penyemangat hidupku. Sekarang dan selamanya, aku akan selalu ingat akan kalimat Aldi serta ibuku. Kalimat motivasi yang berguna. Motivasi emas. “Kalau kita takut melakukan kesalahan, selamanya kita akan berjalan di tempat.”
 *NB: Cerita ini hanyalah cerita fiksi:)

Sabtu, 27 Oktober 2012

Lomba #CloseToYou_PANGERAN DUNIA MAYA


SINOPSIS DAN COVER Close to You


Judul : Close to You
Penulis: Clara Canceriana
Genre : Romance
Kategori: Fiksi, novel lokal
ISBN: 978-602-7742-01-7
Tebal :  264 halaman
Harga : Rp.42.500
Terbit: Oktober 2012
Sinopsis
“Menurutmu, aku seperti apa?”
“Kau? Tentu saja perempuan manis yang lembut.”

Tidak seperti kata Alex, Hara sama sekali tidak manis maupun lembut. Saat Hara merasa mulai menyukai teman di dunia mayanya itu, Shin Kang, mantan pacarnya yang menyebalkan, kembali memberikan perhatian
padanya.

Tapi bukan itu masalah terbesarnya. Bayu, mahasiswa pengecut asal Indonesia yang menjadi orang yang harus
dia bimbing, diam-diam ikut mencuri perhatiannya.

Hara pernah berjanji untuk tidak pergi ke N Seoul Tower sebelum menemukan orang yang disukainya. Pada akhirnya, siapa yang harus diajaknya pergi ke N Seoul Tower?
“Kau… pernah jatuh cinta pada dua orang sekaligus?”

NASKAH LOMBA [PANGERAN DUNIA MAYA]

 
            5 Oktober 2011. Ya, aku ingat betul tanggal itu. Aku berkenalan dengan seorang cowok di dunia maya.
            Berawal dari aku membuka facebook, lalu ada notifications pertemanan. Aku membukanya, dan membuka satu persatu orang yang meng-add aku. Aku tidak mengkonfirmasi semua. Aku hanya mengkonfirmasi orang yang aku kenal di dunia nyata. Tapi, tanpa sengaja, aku melihat ada nama cowok yang sangat indah, aku tidak mau menyebut namanya disini. Sebut saja si x. Dia meng-add aku. Mula-mula, aku tidak mau menghiraukan dia, malahan aku mau memblokir dia, tapi rasa penasaranku terhadap dia mendorong tanganku untuk membuka profilnya. Maka, terbukalah profil dia. Pertama-tama yang aku lihat, foto profil dia. Tidak ada yang menarik di foto profilnya. Hanya gambar berupa kartun atau apa-lah—gambar yang tidak jelas, tapi lucu—menghiasi profilnya. Aku lihat biodata dia, ternyata dia tinggal sekota sama aku. Surabaya. Dia lahir tanggal 11 Februari 1998. Yang ternyata tahun kelahirannya sama dengan aku. Dan terakhir, aku liat sekolahnya. Dia sekolah di SMP Negri Surabaya. Aku tidak mau menyebutnya lagi. Dia beda sekolah sama aku. Jarak sekolah kami, sekitar 5KM-an. Hmm, tidak seberapa jauh. Wait, aku berhenti memelototi profil dia, dan berganti berpikir dalam hati; mengapa dia meng-add aku? Kenal dari mana dia? Pertanyaan itu terus terlintas di otakku. Ah, tapi masa bodoh, itu ngga penting, yang terpenting, harus aku apakan dia? Maksudku, pertemanan dia harus aku konfirmasi apa aku tolak? Dan akhirnya, aku konfirmasi dia. Aku telah keluar dari prinsipku sebelumnya....
                                                                   ***
            Siang itu, setelah aku pulang sekolah, aku mengecek handphone-ku, ternyata ada inbox baru. Aku tekan tombol “read” pada handphone-ku, dan muncul pesan text dari orang yang tidak aku kenal.
From: 089677640***
Hai^^
Begitulah pesan singkatnya. Aku berusaha menghiraukannya, tapi 1 menit kemudian, sms itu masuk lagi di kontak inbox-ku. Akhirnya, aku coba balas pesannya. Hanya singkat “Siapa?” Dan, terkirim.
Tidak sampai satu menit, balasan datang.
From: 089677640***
Aku yang punya facebook namanya ******** ***** *****. Yang kemarin kamu konfirmasi. Hehe. Ini Adelia, kan?
Astaga, ternyata dia cowok kemarin! Aku lupa, aku sudah mencantumkan no handphone-ku di facebook! Ya ampun! Baru kali ini, aku menyesali kebodohanku! Kecerobohanku! Errr.
Dan dengan perasaan campur aduk, aku balas pesan dia. Dan mulailah perkenalan kami melalui sms…..
                                                                        ***
            Sudah 29 hari kami—aku dan cowok x—bersms-an. Dan tak terasa, 29 hari ini, aku selalu merasa terhibur dengan sms nya. Perhatiannya. Ups, apakah ini yang dimaksud suka? Jatuh cinta? Tapi, dia hanyalah cowok dunia maya. Cowok yang belum pernah kutemui sebelumnya....
            Dan tepat 30 hari kami berkenalan, 5 November 2011. Dia mencoba menggombaliku. Aku juga membalas gombalannya, bahkan, aku sempat tersenyum-senyum sendiri hanya dengan membawa handphone-ku. Tiba-tiba, tanpa kuduga, dia menembak aku. Ya ampun, dia menyatakan cinta kepadaku! Cinta? Apa dia cinta kepadaku? Dia kan belum pernah bertemu denganku? Dia belum tau wajahku, kan? Oh ya, mungkin dia sudah tau wajahku di foto, karena aku memasang fotoku di facebook. Dan, aku juga sudah tau wajah dia via foto yang dipajang di facebook. Tapi..., benarkah dia jatuh cinta hanya dengan melihat fotoku? Ah, tidak masuk akal....
                                                                      ***
            3 Mei 2012, ya sudah 6 bulan lebih aku menjalani hubungan dengannya. Tidak terasa ya. Hubungan tanpa pertemuan... Aneh memang....
            Di bulan 1-5, hubungan kami baik-baik saja, tapi, menginjak bulan ke 6, pertengkaran mulai terjadi. Pertengkaran kecil memang, tapi sangat berakibat fatal bagi kami....
Dan kemudian pada tanggal yang sama, jam 7 malam, engkau mengatakan kepadaku tentang kerinduanmu. Padahal kita tidak pernah bertemu. Tetapi hati kita sering bersatu, melalui nada-nada, cerita-cerita, canda dan tawa. Hingga engkau menodongku dengan sebuah kalimat "Kalau kamu hanya fiksi, hanya sebuah tulisan, hanya berupa suara. AKU PERGI."
JEGLER! Kalimat itu bagaikan petir yang menghantam hatiku hingga gosong. Aku
speechles. Tidak tahu harus berkata apa lagi. Aku terlanjur mencintainya. Mencintai dengan fiksi. Tapi..., kalimat dia itu juga ada benarnya. Oh tuhan, aku tidak kuat menghadapi kenyataan ini. Aku berusaha menyetabilkan perasaanku dengan tiduran 10 menit, tapi gagal. Perasaanku tetap tidak keruan. Ya tuhan, inikah rasanya galau? Inikah rasanya patah hati? Hanya dengan pangerasan fiksi?
           
Dan untuk menutup percakapanku dengan dia. Aku mengirim sms ke dia.
"Apakah kau juga akan rela meninggalkan semua perempuan fiksi yang kau sentuh dengan kalimat lewat monitormu? Lalu untuk apa selama ini kita mencoba saling berbagi? Sementara pada beberapa menit, seluruh manusia modern akan membagikan waktunya untuk berbincang dengan sosok-sosok fiksi lewat, layar I pad, laptop, ponsel, dsb. begitu juga dengan dirimu yang menemukanku di peradaban itu. Ingatlah, bahwa perempuan fiksi punya hati yang tak fiksi. rasa yang nyata, yang pernah membuatmu gila karena rindu sekarat yang merajalela. OKE, KARENA KAMU MENGINGINKAN AKU PERGI. AKU PERGI:’)”

            Begitulah akhir dari cerita teman dunia mayaku:’)
                                                Diambil dari kisah nyataku, dan ditulis dengan air mata hampir berjatuhan:’)

SINOPSIS DAN COVER Close to You


Judul : Close to You
Penulis: Clara Canceriana
Genre : Romance
Kategori: Fiksi, novel lokal
ISBN: 978-602-7742-01-7
Tebal :  264 halaman
Harga : Rp.42.500
Terbit: Oktober 2012
Sinopsis
“Menurutmu, aku seperti apa?”
“Kau? Tentu saja perempuan manis yang lembut.”

Tidak seperti kata Alex, Hara sama sekali tidak manis maupun lembut. Saat Hara merasa mulai menyukai teman di dunia mayanya itu, Shin Kang, mantan pacarnya yang menyebalkan, kembali memberikan perhatian
padanya.

Tapi bukan itu masalah terbesarnya. Bayu, mahasiswa pengecut asal Indonesia yang menjadi orang yang harus
dia bimbing, diam-diam ikut mencuri perhatiannya.

Hara pernah berjanji untuk tidak pergi ke N Seoul Tower sebelum menemukan orang yang disukainya. Pada akhirnya, siapa yang harus diajaknya pergi ke N Seoul Tower?
“Kau… pernah jatuh cinta pada dua orang sekaligus?”

NASKAH LOMBA [PANGERAN DUNIA MAYA]

 
            5 Oktober 2011. Ya, aku ingat betul tanggal itu. Aku berkenalan dengan seorang cowok di dunia maya.
            Berawal dari aku membuka facebook, lalu ada notifications pertemanan. Aku membukanya, dan membuka satu persatu orang yang meng-add aku. Aku tidak mengkonfirmasi semua. Aku hanya mengkonfirmasi orang yang aku kenal di dunia nyata. Tapi, tanpa sengaja, aku melihat ada nama cowok yang sangat indah, aku tidak mau menyebut namanya disini. Sebut saja si x. Dia meng-add aku. Mula-mula, aku tidak mau menghiraukan dia, malahan aku mau memblokir dia, tapi rasa penasaranku terhadap dia mendorong tanganku untuk membuka profilnya. Maka, terbukalah profil dia. Pertama-tama yang aku lihat, foto profil dia. Tidak ada yang menarik di foto profilnya. Hanya gambar berupa kartun atau apa-lah—gambar yang tidak jelas, tapi lucu—menghiasi profilnya. Aku lihat biodata dia, ternyata dia tinggal sekota sama aku. Surabaya. Dia lahir tanggal 11 Februari 1998. Yang ternyata tahun kelahirannya sama dengan aku. Dan terakhir, aku liat sekolahnya. Dia sekolah di SMP Negri Surabaya. Aku tidak mau menyebutnya lagi. Dia beda sekolah sama aku. Jarak sekolah kami, sekitar 5KM-an. Hmm, tidak seberapa jauh. Wait, aku berhenti memelototi profil dia, dan berganti berpikir dalam hati; mengapa dia meng-add aku? Kenal dari mana dia? Pertanyaan itu terus terlintas di otakku. Ah, tapi masa bodoh, itu ngga penting, yang terpenting, harus aku apakan dia? Maksudku, pertemanan dia harus aku konfirmasi apa aku tolak? Dan akhirnya, aku konfirmasi dia. Aku telah keluar dari prinsipku sebelumnya....
                                                                   ***
            Siang itu, setelah aku pulang sekolah, aku mengecek handphone-ku, ternyata ada inbox baru. Aku tekan tombol “read” pada handphone-ku, dan muncul pesan text dari orang yang tidak aku kenal.
From: 089677640***
Hai^^
Begitulah pesan singkatnya. Aku berusaha menghiraukannya, tapi 1 menit kemudian, sms itu masuk lagi di kontak inbox-ku. Akhirnya, aku coba balas pesannya. Hanya singkat “Siapa?” Dan, terkirim.
Tidak sampai satu menit, balasan datang.
From: 089677640***
Aku yang punya facebook namanya ******** ***** *****. Yang kemarin kamu konfirmasi. Hehe. Ini Adelia, kan?
Astaga, ternyata dia cowok kemarin! Aku lupa, aku sudah mencantumkan no handphone-ku di facebook! Ya ampun! Baru kali ini, aku menyesali kebodohanku! Kecerobohanku! Errr.
Dan dengan perasaan campur aduk, aku balas pesan dia. Dan mulailah perkenalan kami melalui sms…..
                                                                        ***
            Sudah 29 hari kami—aku dan cowok x—bersms-an. Dan tak terasa, 29 hari ini, aku selalu merasa terhibur dengan sms nya. Perhatiannya. Ups, apakah ini yang dimaksud suka? Jatuh cinta? Tapi, dia hanyalah cowok dunia maya. Cowok yang belum pernah kutemui sebelumnya....
            Dan tepat 30 hari kami berkenalan, 5 November 2011. Dia mencoba menggombaliku. Aku juga membalas gombalannya, bahkan, aku sempat tersenyum-senyum sendiri hanya dengan membawa handphone-ku. Tiba-tiba, tanpa kuduga, dia menembak aku. Ya ampun, dia menyatakan cinta kepadaku! Cinta? Apa dia cinta kepadaku? Dia kan belum pernah bertemu denganku? Dia belum tau wajahku, kan? Oh ya, mungkin dia sudah tau wajahku di foto, karena aku memasang fotoku di facebook. Dan, aku juga sudah tau wajah dia via foto yang dipajang di facebook. Tapi..., benarkah dia jatuh cinta hanya dengan melihat fotoku? Ah, tidak masuk akal....
                                                                      ***
            3 Mei 2012, ya sudah 6 bulan lebih aku menjalani hubungan dengannya. Tidak terasa ya. Hubungan tanpa pertemuan... Aneh memang....
            Di bulan 1-5, hubungan kami baik-baik saja, tapi, menginjak bulan ke 6, pertengkaran mulai terjadi. Pertengkaran kecil memang, tapi sangat berakibat fatal bagi kami....
Dan kemudian pada tanggal yang sama, jam 7 malam, engkau mengatakan kepadaku tentang kerinduanmu. Padahal kita tidak pernah bertemu. Tetapi hati kita sering bersatu, melalui nada-nada, cerita-cerita, canda dan tawa. Hingga engkau menodongku dengan sebuah kalimat "Kalau kamu hanya fiksi, hanya sebuah tulisan, hanya berupa suara. AKU PERGI."
JEGLER! Kalimat itu bagaikan petir yang menghantam hatiku hingga gosong. Aku
speechles. Tidak tahu harus berkata apa lagi. Aku terlanjur mencintainya. Mencintai dengan fiksi. Tapi..., kalimat dia itu juga ada benarnya. Oh tuhan, aku tidak kuat menghadapi kenyataan ini. Aku berusaha menyetabilkan perasaanku dengan tiduran 10 menit, tapi gagal. Perasaanku tetap tidak keruan. Ya tuhan, inikah rasanya galau? Inikah rasanya patah hati? Hanya dengan pangerasan fiksi?
           
Dan untuk menutup percakapanku dengan dia. Aku mengirim sms ke dia.
"Apakah kau juga akan rela meninggalkan semua perempuan fiksi yang kau sentuh dengan kalimat lewat monitormu? Lalu untuk apa selama ini kita mencoba saling berbagi? Sementara pada beberapa menit, seluruh manusia modern akan membagikan waktunya untuk berbincang dengan sosok-sosok fiksi lewat, layar I pad, laptop, ponsel, dsb. begitu juga dengan dirimu yang menemukanku di peradaban itu. Ingatlah, bahwa perempuan fiksi punya hati yang tak fiksi. rasa yang nyata, yang pernah membuatmu gila karena rindu sekarat yang merajalela. OKE, KARENA KAMU MENGINGINKAN AKU PERGI. AKU PERGI:’)”

            Begitulah akhir dari cerita teman dunia mayaku:’)
                                                Diambil dari kisah nyataku, dan ditulis dengan air mata hampir berjatuhan:’)

Book review: Dengerin Dong, Troy! by Ade Kumalasari


Judul               : Dengerin Dong Troy
Pengarang       : Ade Kumalasari
Penerbit           : PT. Gramedia Pustaka Utama
Harga              : Rp 38.000,

Summary:
"Kenapa sih Din, aku belum punya pacar?" curhat Lintang ke sobatnya.
"Because you are sooo smart!" balas Dinda.

Dunia remaja Lintang kelihatannya begitu indah. Tapi bagi Lintang, hidupnya ya begitu-begitu saja. Bagaimana tidak? Lintang berasal dari keluarga tidak punya. Dan di umur yang hampir 17 ini, ia belum mempunyai pacar! Malu? Kirana tidak malu, melainkan dia penasaran. Penasaran bagaimana sih, rasanya mempunyai pacar?
Dinda, sohib terdekatnya Lintang mulai pasang aksi dengan menjodohkan Lintang dengan 5 calon pacarnya yang semuanya gak ada yang nyangkut di hati Lintang sampai Lintang harus menghadapi kenyataan bahwa Troy, teman yang selalu punya masalah soal relationship dengannya ternyata punya perhatian khusus pada Lintang. Usaha Dinda, sahabat Lintang memang tak sia-sia karena pada akhirnya Lintang bisa dekat dengan Troy dan mengetahui semua hal dibalik ketakwajaran sikapnya yang acuh tak acuh. Mulai dari sering cek-coknya Lintang dengan Troy, selalu mengacau di rapat OSIS, pulang lebih awal setiap pulang sekolah sampai rahasia hati yang dipendamnya selama ini.

Tema itulah yang menjadi topik bahasan utama Ade Kumalasari dalam novel Dengerin Dong, Troy ini. Dengan gaya bercerita dan segala pernik khas remaja, Ade menghidupkan tokoh yang begitu real dengan segala keluguan Lintang begitu dekat dengan keseharian. Seorang remaja beranjak dewasa yang menghadapi kenyataan bahwa ia berasal dari keluarga tidak mampu. Dengan ejekan teman, dia tetap berusaha enjoy. Bagaimanapun keadaan ekonomi orang tuanya, mereka tetap orang tuanya. Pelajaran berharga.

Nuansa riang-komedi dan tema persahabatan menyelimuti novel ini.
Yang juga menarik dari novel ini adalah sifat dingin si Troy. Dibalik sifat dinginnya, terdapat rahasia yang begitu kelam. Rahasia yang dunia tak boleh tau, karena jika dunia tau, ia akan menanggung malu.

Masih cukup banyak ruang untuk pengembangan plot memang tapi saya pribadi sih sudah merasa cukup. Kegalauan hati seorang gadis SMA, pintar dan harapan keluarga, cukup tergambarkan dengan baik. 
Di novel ini, kalian bakal menemukan banyak pelajaran yang amat sangat berharga. Salah satunya, tawuran. Yeah, kalangan remaja sekarang banyak yang melakukan tawuran, terutama pelajar SMA. Sudah banyak ditemukan pelajar tewas gara-gara mengikuti tawuran antar sekolah. Bahkan, banyak pelajar yang tidak ikut tawuran, malah jadi tawuran. Ckck, Indonesia sudah sangat miris, bukan? Jika mereka--para pelajar-- membaca novel ini, mereka pasti akan berpikir 2 bahkan berkali-kali untuk melakukan tawuran, hal yang sangat tidak patut untuk dilakukan. Karena di novel ini, kalian bakal mendapat pelajaran; apa sih resikonya kalau kita tawuran? BANYAK! Temukan di novel ini lah ya:)
 
Novel berisi cerita romantis, humor, dan PEMBELAJARAN. Benar-benar novel teenlit yang patut diacungi jempol. Mbak Ade Kumalasari berhasil membuat pembaca kagum!

                                                                  3/5 star from me!;)


Judul               : Dengerin Dong Troy
Pengarang       : Ade Kumalasari
Penerbit           : PT. Gramedia Pustaka Utama
Harga              : Rp 38.000,

Summary:
"Kenapa sih Din, aku belum punya pacar?" curhat Lintang ke sobatnya.
"Because you are sooo smart!" balas Dinda.

Dunia remaja Lintang kelihatannya begitu indah. Tapi bagi Lintang, hidupnya ya begitu-begitu saja. Bagaimana tidak? Lintang berasal dari keluarga tidak punya. Dan di umur yang hampir 17 ini, ia belum mempunyai pacar! Malu? Kirana tidak malu, melainkan dia penasaran. Penasaran bagaimana sih, rasanya mempunyai pacar?
Dinda, sohib terdekatnya Lintang mulai pasang aksi dengan menjodohkan Lintang dengan 5 calon pacarnya yang semuanya gak ada yang nyangkut di hati Lintang sampai Lintang harus menghadapi kenyataan bahwa Troy, teman yang selalu punya masalah soal relationship dengannya ternyata punya perhatian khusus pada Lintang. Usaha Dinda, sahabat Lintang memang tak sia-sia karena pada akhirnya Lintang bisa dekat dengan Troy dan mengetahui semua hal dibalik ketakwajaran sikapnya yang acuh tak acuh. Mulai dari sering cek-coknya Lintang dengan Troy, selalu mengacau di rapat OSIS, pulang lebih awal setiap pulang sekolah sampai rahasia hati yang dipendamnya selama ini.

Tema itulah yang menjadi topik bahasan utama Ade Kumalasari dalam novel Dengerin Dong, Troy ini. Dengan gaya bercerita dan segala pernik khas remaja, Ade menghidupkan tokoh yang begitu real dengan segala keluguan Lintang begitu dekat dengan keseharian. Seorang remaja beranjak dewasa yang menghadapi kenyataan bahwa ia berasal dari keluarga tidak mampu. Dengan ejekan teman, dia tetap berusaha enjoy. Bagaimanapun keadaan ekonomi orang tuanya, mereka tetap orang tuanya. Pelajaran berharga.

Nuansa riang-komedi dan tema persahabatan menyelimuti novel ini.
Yang juga menarik dari novel ini adalah sifat dingin si Troy. Dibalik sifat dinginnya, terdapat rahasia yang begitu kelam. Rahasia yang dunia tak boleh tau, karena jika dunia tau, ia akan menanggung malu.

Masih cukup banyak ruang untuk pengembangan plot memang tapi saya pribadi sih sudah merasa cukup. Kegalauan hati seorang gadis SMA, pintar dan harapan keluarga, cukup tergambarkan dengan baik. 
Di novel ini, kalian bakal menemukan banyak pelajaran yang amat sangat berharga. Salah satunya, tawuran. Yeah, kalangan remaja sekarang banyak yang melakukan tawuran, terutama pelajar SMA. Sudah banyak ditemukan pelajar tewas gara-gara mengikuti tawuran antar sekolah. Bahkan, banyak pelajar yang tidak ikut tawuran, malah jadi tawuran. Ckck, Indonesia sudah sangat miris, bukan? Jika mereka--para pelajar-- membaca novel ini, mereka pasti akan berpikir 2 bahkan berkali-kali untuk melakukan tawuran, hal yang sangat tidak patut untuk dilakukan. Karena di novel ini, kalian bakal mendapat pelajaran; apa sih resikonya kalau kita tawuran? BANYAK! Temukan di novel ini lah ya:)
 
Novel berisi cerita romantis, humor, dan PEMBELAJARAN. Benar-benar novel teenlit yang patut diacungi jempol. Mbak Ade Kumalasari berhasil membuat pembaca kagum!

                                                                  3/5 star from me!;)

Minggu, 30 September 2012

KERINDUAN YANG AMAT SANGAT DALAM


MENJELASKAN KESEPIAN
Dear deary,
Waktu berjalan dengan cepat, berjalan yang kita kira lambat ternyata bergerak seakan tanpa jerat. Semua telah berubah, begitu juga kamu, begitu juga aku, begitu juga kita. Bahkan waktu telah menghapus KITA yang pernah merasakan cinta, waktu telah memutarbalikkan segalanya yang sempat indah. Tak ada yang tahu, kapan perpisahan menjadi penyebab kecemburuan. Aku menjalani, dan aku  meyakini, namun pada akhirnya waktu juga yang akan menentukan akhir cerita ini.

Kaubilang, tak ada yang terlalu berbeda, tak ada yang terasa begitu menyakitkan. Tapi siapa yang tau perasaan orang yang terdalam? Mulut bisa berkata, namun hati tak bisa berdusta. Kalau aku boleh jujur, semua terasa asing dan berbeda. Itulah sebabnya tak ada lagi kamu disini. Kosong. Hampa.

Bagaimana aku bisa menjelaskan banyak hal yang mungkin tidak kamu rasakan? Aku berharap kau selalu berada disini. Namun harapanku terlalu jauh untuk kembali ke masa lalu, saat waktu yang kita jalani adalah kebahagiaan kita seutuhnya, saat masih ada kamu di barisan hidupku.

Perpisahan seperti mendorongku pada realita yang selama ini aku takutkan. Kehilangan mempersatukan aku pada air mata. Aku sulit memahami kalau kau tidak berada lagi di semestaku. Di khayalanku. Di anganku. Semua kenangan bergantian melewati otakku, bagai film yang tak mau berhenti kejar tayang.

Ada yang kurang. Ada yang tak lengkap. Aku terbiasa pada kehadiranmu, dan ketika menjalani setiap detik tanpamu, yang kurasa hanya bayang-bayang yang saling berkejaran. Otakku selalu memaksaku memikirkan kamu. Aneh bukan? Salahkah jka aku mengharapkan penyatuan kita kembali? Salahkah jika aku benci kepada perpisahan ini?

Aku merindukanmu. Kamu yang dulu. Aku yang dulu. Intinya, kita yang dulu.
Ya ampun, aku sudah melamun selama sekitar 2 menit, dan menuliskan sebagian isi hatiku di microsoft word ini. Ah diary, inilah penyebab kerinduan yang sangat amat dalam.

MENJELASKAN KESEPIAN
Dear deary,
Waktu berjalan dengan cepat, berjalan yang kita kira lambat ternyata bergerak seakan tanpa jerat. Semua telah berubah, begitu juga kamu, begitu juga aku, begitu juga kita. Bahkan waktu telah menghapus KITA yang pernah merasakan cinta, waktu telah memutarbalikkan segalanya yang sempat indah. Tak ada yang tahu, kapan perpisahan menjadi penyebab kecemburuan. Aku menjalani, dan aku  meyakini, namun pada akhirnya waktu juga yang akan menentukan akhir cerita ini.

Kaubilang, tak ada yang terlalu berbeda, tak ada yang terasa begitu menyakitkan. Tapi siapa yang tau perasaan orang yang terdalam? Mulut bisa berkata, namun hati tak bisa berdusta. Kalau aku boleh jujur, semua terasa asing dan berbeda. Itulah sebabnya tak ada lagi kamu disini. Kosong. Hampa.

Bagaimana aku bisa menjelaskan banyak hal yang mungkin tidak kamu rasakan? Aku berharap kau selalu berada disini. Namun harapanku terlalu jauh untuk kembali ke masa lalu, saat waktu yang kita jalani adalah kebahagiaan kita seutuhnya, saat masih ada kamu di barisan hidupku.

Perpisahan seperti mendorongku pada realita yang selama ini aku takutkan. Kehilangan mempersatukan aku pada air mata. Aku sulit memahami kalau kau tidak berada lagi di semestaku. Di khayalanku. Di anganku. Semua kenangan bergantian melewati otakku, bagai film yang tak mau berhenti kejar tayang.

Ada yang kurang. Ada yang tak lengkap. Aku terbiasa pada kehadiranmu, dan ketika menjalani setiap detik tanpamu, yang kurasa hanya bayang-bayang yang saling berkejaran. Otakku selalu memaksaku memikirkan kamu. Aneh bukan? Salahkah jka aku mengharapkan penyatuan kita kembali? Salahkah jika aku benci kepada perpisahan ini?

Aku merindukanmu. Kamu yang dulu. Aku yang dulu. Intinya, kita yang dulu.
Ya ampun, aku sudah melamun selama sekitar 2 menit, dan menuliskan sebagian isi hatiku di microsoft word ini. Ah diary, inilah penyebab kerinduan yang sangat amat dalam.

Sabtu, 01 September 2012

LAGI..., TENTANG KITA. TENTANG MASA LALU

Ini bukan yang pertama, duduk sendirian dan memerhatikan beberapa tulisan berlalu-lalang. Setiap abjad yang tersusun dalam kata terangkai menjadi kalimat, dan entah mengapa sosokmu selalu berada di sana, berdiam dalam tulisan yang sebenarnya enggan aku baca dan kudefinisikan lagi. Ini bukan yang baru bagiku, duduk berjam-jam tanpa merasakan hangatnya perhatianmu melalui pesan singkat. Kekosangan dan kehampaan sudah berganti-ganti wajah sejak tadi, namun aku tetap menunduk, mencoba tak memedulikan keadaan. Karena jika aku terlalu terbawa emosi, aku bisa mati iseng sendiri.

Tentu saja kamu tak merasakan apa yang aku rasakan. Rasa rindu. Rasa sayang. Aku sengaja menyembunyikan perasaaan itu rapat-rapat.

Kali ini aku akan membahas tentang kesepian, atau bercerita tentang hal yang sulit kau pahami. Karena aku sudah tau, kamu sangat sulit diajak basa-basi, apalagi jika bercerita soal cinta. Aku yakin, kamu akan menutup telinga dan membesarkan volume-volume lagu jika aku berkata soal kerinduan. Aku tidak akan tega menjejalimu dengan cerita absurdku. Seperti dulu, seperti aku cerita tentang cinta, kau malah tertawa. Haha, patutkah begitu? Bagiku, tidak.

Kamu tak suka jika aku ceritakan tentang air mata bukan? Bagaimana kalau kualihkan dengan senyum pura-pura? Tentu saja kau tak ingin melihatnya. Karena kau sama sekali tidak peka. Dan mungkin, sifat burukmu tetap saja begitu. Walaupun kita sudah lama tak bersua.

Entah mengapa, akhir-akhir ini sepi sekali. Aku seperti mendengar bisikan-bisikan angin di telingaku. Mendengar gelitikan asap rokok ayahku di telingaku. Aku seperti menjadi orang yang kesepian di dalam keramaian. Itu sama sekali tak mengenakkan, kau tahu? Ah, mungkin kau tidak pernah merasakan hal seperti itu. Dan, semoga tak akan pernah. Karena aku selalu mendoakanmu. Ingatlah itu. Yakinlah itu.

Tidak usah dibawa serius. Hanya beberapa paragraf bodoh untuk menemani rasa sepiku.
Ini bukan yang pertama, duduk sendirian dan memerhatikan beberapa tulisan berlalu-lalang. Setiap abjad yang tersusun dalam kata terangkai menjadi kalimat, dan entah mengapa sosokmu selalu berada di sana, berdiam dalam tulisan yang sebenarnya enggan aku baca dan kudefinisikan lagi. Ini bukan yang baru bagiku, duduk berjam-jam tanpa merasakan hangatnya perhatianmu melalui pesan singkat. Kekosangan dan kehampaan sudah berganti-ganti wajah sejak tadi, namun aku tetap menunduk, mencoba tak memedulikan keadaan. Karena jika aku terlalu terbawa emosi, aku bisa mati iseng sendiri.

Tentu saja kamu tak merasakan apa yang aku rasakan. Rasa rindu. Rasa sayang. Aku sengaja menyembunyikan perasaaan itu rapat-rapat.

Kali ini aku akan membahas tentang kesepian, atau bercerita tentang hal yang sulit kau pahami. Karena aku sudah tau, kamu sangat sulit diajak basa-basi, apalagi jika bercerita soal cinta. Aku yakin, kamu akan menutup telinga dan membesarkan volume-volume lagu jika aku berkata soal kerinduan. Aku tidak akan tega menjejalimu dengan cerita absurdku. Seperti dulu, seperti aku cerita tentang cinta, kau malah tertawa. Haha, patutkah begitu? Bagiku, tidak.

Kamu tak suka jika aku ceritakan tentang air mata bukan? Bagaimana kalau kualihkan dengan senyum pura-pura? Tentu saja kau tak ingin melihatnya. Karena kau sama sekali tidak peka. Dan mungkin, sifat burukmu tetap saja begitu. Walaupun kita sudah lama tak bersua.

Entah mengapa, akhir-akhir ini sepi sekali. Aku seperti mendengar bisikan-bisikan angin di telingaku. Mendengar gelitikan asap rokok ayahku di telingaku. Aku seperti menjadi orang yang kesepian di dalam keramaian. Itu sama sekali tak mengenakkan, kau tahu? Ah, mungkin kau tidak pernah merasakan hal seperti itu. Dan, semoga tak akan pernah. Karena aku selalu mendoakanmu. Ingatlah itu. Yakinlah itu.

Tidak usah dibawa serius. Hanya beberapa paragraf bodoh untuk menemani rasa sepiku.

Sabtu, 28 Juli 2012

Inikah Rasanya Jarak?

Jarak sejauh ini tak membuat kita berbuat dan begerak lebih lama. Seakan-akan aku dan kamu tak punya ruang untuk saling bersentuhan dan menatap.
Rasanya menyakitkan  jika keterbatasanku dan keterbatasanmu menjadi penyebab kita tak banyak tahu dan tak pernah bertemu. Setiap hari, kita menahan rindu yang terpisahkan oleh jarak puluhan kilometer ini.

Aku menghela napas, jika kamu terus berada disisiku. Mana mungkin, air mata kerinduan selalu jatuh, ketika tulisan, gambar serta suara yang menguatkan bibir kita.

Apakah pertahanan yang selama ini kita pertahankan? Apakah yang kita andalkan, sejauh ini? Sekuat apakah perasaan cinta kita? Menahan dan mempertahankan, dan kadangkala memicu pertengkaran. Tapi... itulah manisnya jarak, ia membuat kita saling menyadari, tak ada cinta tanpa luka, tak ada cinta tanpa rindu.

Sayang, apalah arti puluhan kilometer, jika kita tetap mengeja nama yang sama? Apakah arti jauhnya jarak jika aku dan kamu masih sangat mungkin untuk mempertahankan semua? Kita tak pernah bergenggam tangan, tak pernah berpelukan, tak pernah bertatap mata. Namun percayalah sayang, tak saling bersentuhan bukan berarti cinta kita banyak kekurangan.

Selama bulan yang kita lihat sama, selama sinar matahari yang menyengat kulit kita masih sama hangatnya, maka pertemuanku dan kamu masih tetap akan terjadi.

Jarak hanya sekedar angka, jika kita masih memperjuangkan cinta yang sama.
Jarak sejauh ini tak membuat kita berbuat dan begerak lebih lama. Seakan-akan aku dan kamu tak punya ruang untuk saling bersentuhan dan menatap.
Rasanya menyakitkan  jika keterbatasanku dan keterbatasanmu menjadi penyebab kita tak banyak tahu dan tak pernah bertemu. Setiap hari, kita menahan rindu yang terpisahkan oleh jarak puluhan kilometer ini.

Aku menghela napas, jika kamu terus berada disisiku. Mana mungkin, air mata kerinduan selalu jatuh, ketika tulisan, gambar serta suara yang menguatkan bibir kita.

Apakah pertahanan yang selama ini kita pertahankan? Apakah yang kita andalkan, sejauh ini? Sekuat apakah perasaan cinta kita? Menahan dan mempertahankan, dan kadangkala memicu pertengkaran. Tapi... itulah manisnya jarak, ia membuat kita saling menyadari, tak ada cinta tanpa luka, tak ada cinta tanpa rindu.

Sayang, apalah arti puluhan kilometer, jika kita tetap mengeja nama yang sama? Apakah arti jauhnya jarak jika aku dan kamu masih sangat mungkin untuk mempertahankan semua? Kita tak pernah bergenggam tangan, tak pernah berpelukan, tak pernah bertatap mata. Namun percayalah sayang, tak saling bersentuhan bukan berarti cinta kita banyak kekurangan.

Selama bulan yang kita lihat sama, selama sinar matahari yang menyengat kulit kita masih sama hangatnya, maka pertemuanku dan kamu masih tetap akan terjadi.

Jarak hanya sekedar angka, jika kita masih memperjuangkan cinta yang sama.
 
Elphin Books Copyright © 2012 Design by Ipietoon Blogger Template